Skip to main content
Karyawan Bergaji Dua Digit, Resign Pilih Jualan Sosis di Kampung, Ternyata Ada Kisah Memilukan

Karyawan Bergaji Dua Digit, Resign Pilih Jualan Sosis di Kampung, Ternyata Ada Kisah Memilukan

Karyawan Bergaji Dua Digit, Resign Pilih Jualan Sosis di Kampung, Ternyata Ada Kisah Memilukan

Kisah karyawan bergaji Rp 40 juta, memilih resign dari pekerjaannya dan memilih pulang kampung untuk jualan sosis.

Padahal digaji Rp 40 juta sebulan, karyawan ini memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya.

Ia lalu pulang ke kampung halamannya dan memilih untuk berjualan sosis.

Meninggalkan gaji dua digit lalu buka usaha kuliner sendiri di kampung tentu tak mudah baginya.

Karyawan memilih resign meski digaji Rp40 juta (freepik.com/rawpixel.com)
Karyawan memilih resign meski digaji Rp40 juta (freepik.com/rawpixel.com)

Faktanya, ada kisah pilu di balik keputusannya untuk resign tersebut.

Seperti apa kisahnya?

Kisah karyawan resign padahal digaji Rp 40 juta per bulan menjadi berita viral.

Ternyata ada alasan kuat di balik pengunduran diri karyawan real estate tersebut.

Perasaan tertekan membuatnya mantap memilih berhenti kerja.

Karyawan itu bernama Tang Ying asal China.

Melansir dari Kompas.com (grup TribunJatim.com) Tang Ying memutuskan resign setelah 4 tahun bekerja di sebuah perusahaan real estate di Beijing.

Halaman Selanjutnya

Tang Ying menjadi desainer toko di perusahaan tersebut.

Tang Ying merasa tidak bahagia selama menjalankan pekerjaannya itu karena terlalu banyak tekanan yang diberikan padanya.

Salah satu tekanan itu berasal dari banyaknya pesan dari sekitar 600 grup dalam aplikasi chat yang ia gunakan.

ILUSTRASI - Tang Ying memutuskan resign setelah 4 tahun bekerja di sebuah perusahaan real estate di Beijing (Freepik)
ILUSTRASI - Tang Ying memutuskan resign setelah 4 tahun bekerja di sebuah perusahaan real estate di Beijing (Freepik)

Tang Ying lalu memutuskan untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya dan kembali pulang ke kampungnya.

Wanita berusia 33 tahun itu telah bekerja sebagai desainer toko di sebuah perusahaan real estate selama empat tahun dan memiliki lebih dari 600 grup chat kelompok kerja.

"Selama waktu kerja yang sibuk, dulu ada lebih dari 10 grup chat yang membicarakan pekerjaan secara bersamaan.

Sampai saya harus membawa komputer untuk makan hot pot," kata Tang Ying.

Menurut Tang, hal tersulit yang pernah dia temui adalah bertanggung jawab mendekorasi toko di 7-8 department store.

Setiap department store memiliki ratusan toko, dan kelompok dibentuk untuk setiap toko.

Kebisingan yang terus-menerus di aplikasi obrolan juga membuat Tang Ying merasa ketakutan. Di sisi lain, dia tidak berani mematikan teleponnya atau berhenti memeriksa grup.

Dia takut akan melewatkan hal penting jika tidak melakukan hal tersebut.

Bahkan risiko terburuknya jika dia sampai melewatkannya adalah dapat mempengaruhi pembukaan toko baru.

"Bahkan aku terus memeriksa grup saat makan atau pergi bermain," kata Tang Ying.

Selain itu, dia juga selalu membawa laptopnya dan selalu memeriksa pesan grup.

Banyaknya pesan di grup masih membuat Tang Ying selalu khawatir dan membuatnya merasa tertekan.

Butuh waktu sekitar seminggu sebelum dia benar-benar keluar dari pekerjaannya.

Selama bekerja di perusahaan tersebut, Tang Ying diketahui mendapat gaji bulanan sekitar 20.000-30.000 Yuan atau sekitar Rp 40 juta per bulan.

Akan tetapi, besaran gaji itu tidak menjamin Tang merasa sejahtera dan bahagia dalam menjalankan pekerjaannya sebagai seorang desainer.

Dikutip dari ECSN, Tang bertanggung jawab mengawasi desain interior sejumlah properti komersial dan mengelola beberapa pusat perbelanjaan.

Banyaknya desain toko yang harus diawasi itu berdampak buruk pada kesehatannya.

Tidak berhenti di situ, Tang juga setiap hari dibombardir oleh banyaknya pesan dari lebih dari 600 grup kerjanya.

Tang mengatakan, ia merasa seperti robot karena tidak bisa memikirkan dirinya sendiri dan hanya terpaku pada pekerjaan dan grup kerjanya saja.

Biasanya, ketika ada pembukaan toko baru, akan dibuat sebuah grup kerja yang isinya adalah Tang sendiri, karyawan toko, karyawan manajemen properti, teknisi, pemilik toko, dan pekerja dekorasi.

Terlalu banyaknya beban kerja yang harus ditanggung, Tang yang merasa lelah memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya dan kembali ke kampung halaman di Nanchong, provinsi Sichuan, China.

Ilustrasi grup chat (thenextweb.com)
Ilustrasi grup chat (thenextweb.com)

Ia juga keluar dari lebih dari 600 grup kerjanya tersebut.

Prosesnya sendiri memakan waktu sekitar tiga setengah jam dari pukul 03.00 hingga 06.30 pagi.

Setelah kembali ke desanya, Tang memulai bisnis penjualan sosis buatannya sendiri dan daging yang diawetkan.

Dengan dukungan dari keluarganya, Tang berhasil mendirikan fasilitas pengolahan kecil di halaman belakang kediaman kakek dan neneknya.

Sementara itu, sang ayah membantu membangun rumah asap dengan menggunakan kayu dari pohon cedar lokal.

Tujuannya adalah agar bisa menciptakan merek untuk produk dagingnya yang diawetkan.

Sebelumnya juga viral kisah karyawati dinikahi bosnya.

Wanita itu bernama Tia Destiara.

Tia Destiara mengabdi menjadi seorang karyawan selama 6 tahun di sebuah perusahaan.

Tak sangka, ia malah dapat kejutan besar dengan menemukan jodohnya di kantor.

Sumber: TribunStyle.com

Halaman Awal